Selasa, 12 November 2013

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

1.      Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan. Sedangkan pengertian etiket adalah suatu sikap seperti sopan santun atau aturan lainnya yang mengatur hubungan antara kelompok manusia yang beradab dalam pergaulan. Banyak masyarakat yang berpendapat, orang yang beretiket belum tentu memiliki etika karena etiket dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar kita.
·      Menurut Maryani & Ludigdo : etika adalah seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia,baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau prifesi.
·      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: Etika adalah nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
·        Menurut Aristoteles: di dalam bukunya yang berjudul Etika Nikomacheia, Pengertian etika dibagi menjadi dua yaitu, Terminius Technicus yang artinya etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. dan yang kedua yaitu, Manner dan Custom yang artinya membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (in herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
·     Menurut Kamus Webster: Etika adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral.
·         Menurut Ahli filosofi: Etika adalah sebagai suatu studi formal tentang moral.
·    Menurut Ahli Sosiologi: Etika adalah dipandang sebagai adat istiadat, kebiasaan dan budaya dalam berperilaku.

2.      Prinsip – Prinsip Etika
Prinsip- prinsip perilaku professional tidak secara khusus dirumuskan oleh ikatan akuntan Indonesia tapi dianggap menjiwai kode perilaku akuntan Indonesia. Adapun prinsip- prisip etika yang merupakan landasan perilaku etika professional, menurut Arens dan Lobbecke (1996 : 81) adalah :
  • Tanggung jawab : Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional dan pertimbangan   moral dalam semua aktifitas mereka.
  • Kepentingan Masyarakat : Akuntan harus menerima kewajiban-kewajiban melakukan tindakan yang  mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada professional
  •  Integritas : Untuk mempertahankan dan menperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab professional dan integritas.
  • Objektivitas dan indepedensi : Akuntan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesioanal. Akuntan yang berpraktek sebagai akuntan public harusbersikap independen dalam kenyataan dan penampilan padawaktu melaksanakan audit dan jasa astestasi lainnya.
  • Keseksamaan  : Akuntan harus mematuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha keras untuk terus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab professional dengan kemampuan terbaik.

3.      Basis Teori Etika
·         Utilitarianisme
Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the greatest number). Paham utilitarianisme sebagai berikut:
(1)   Ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat, konsekuensi, atau
tujuan dari tindakan itu, apakah memberi manfaat atau tidak.

(2)   Dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang
penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan.
(3) Kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.

Kritik terhadap teori utilitarianisme:
a.       Utilitarianisme hanya menekankan tujuan/mnfaat pada pencapaian kebahagiaan duniawi dan mengabaikan aspek rohani.
b.      Utilitarianisme mengorbankan prinsip keadilan dan hak individu /minoritas
demi keuntungan mayoritas orang banyak.

·         Teori Deontologi
Paradigma teori deontologi saham berbeda dengan paham egoisme dan utilitarianisme, yang keduanya sama-sama menilai baik buruknya suatu tindakan memberikan manfaat entah untuk individu (egoisme) atau untuk banyak orang/kelompok masyarakat (utilitarianisme), maka tindakan itu dikatakan etis. Sebaliknya, jika akibat suatu tindakan merugikan individu atau sebagian besar kelompok masyarakat, maka tindakan tersebut dikatakan tidak etis. Teori yang menilai suatu tindakan berdasarkan hasil, konsekuensi, atau tujuan dari tindakan tersebut disebut teori teleologi.
Sangat berbeda dengan paham teleologi yang menilai etis atau tidaknya suatu tindakan berdasarkan hasil, tujuan, atau konsekuensi dari tindakan tersebut. Paham deontologi justru mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi, atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. 

Kant berpendapat bahwa kewajiban moral harus dilaksanakan demi kewajiban itu sendiri, bukan karena keinginan untuk memperoleh tujuan kebahagiaan, bukan juga karena kewajiban moral iu diperintahkan oleh Tuhan. Moralitas hendaknya bersifat otonom dan harus berpusat pada pengertian manusia berdasarkan akal sehat yang dimiliki manusia itu sendiri, yang berarti kewajiban moral mutlak itu bersifat rasional.

Walaupun teori deontologi tidak lagi mengkaitkan kriteria kebaikan moral dengan tujuan tindakan sebagaimana teori egoisme dan tlitarianisme, namun teori ini juga mendapat kritikan tajam terutama dari kaum agamawan. Kant mencoba membangun teorinya hanya berlandaskan pemikiran rasional dengan berangkat dari asumsi bahwa karena manusia bermartabat, maka setiap perlakuan manusia terhadap manusia lainnya harus dilandasi oleh kewajiban moral universal. Tidak ada tujuan lain selain mematuhi kewajiban moral demi kewajiban itu sendiri.

·         Teori Hak
Suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan atau tindakan tersebut sesuai dengan HAM. Menurut Bentens (200), teori hak merupakan suatu aspek dari deontologi (teori kewajiban) karena hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Bila suatu tindakan merupakan hak bagi seseorang, maka sebenarnya tindakan yang sama merupakan kewajiban bagi orang lain. Teori hak sebenarnya didsarkan atas asumsi bahwa manusia mempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat yang sama.

            Hak asasi manusia didasarkan atas beberapa sumber otoritas, yaitu :
a.   Hak hukum (legal right), adalah hak yang didasarkan atas sistem/yurisdiksi hukum suatu negara, di mana sumber hukum tertinggi suatu negara adalah Undang-Undang Dasar negara yang bersangkutan.
b.   Hak moral atau kemanusiaan (moral, human right), dihubungkan dengan pribadi manusia secara individu, atau dalam beberapa kasus dihubungkan dengan kelompok bukan dengan masyarakat dalam arti luas. Hak moral berkaitan dengan kepentingan individu sepanjang kepentingan individu itu tidak melanggar hak-hak orang lain.
c. Hak kontraktual (contractual right), mengikat individu-individu yang membuat kesepakatan/kontrak bersama dalam wujud hak dan kewajiban masing-masing kontrak.

Teori hak atau yang lebih dikenal dengan prinsip-prinsip HAM mulai banyak mendapat dukungan masyarakat dunia termasuk dari PBB. Piagam PBB sendiri merupakan salah satu sumber hukum penting untuk penegakan HAM. Dalam Piagam PBB disebutkan ketentuan umum tentang hak dan kemerdekaan setiap orang. PBB telah mendeklarasikan prinsip-prinsip HAM universal pada tahun 1948, yang lebih dikenal dengan nama Universal Declaration of Human Rights. (UdoHR). Diaharapkan semua negara di dunia dapat menggunakan UdoHR sebagai dasar bagi penegakan HAM dan pembuatan berbagai undang-undang/peraturan yang berkaitan dengan penegakan HAM. Pada intinya dalam UdoHR diatur hak-hak kemanusiaan, antara lain mengenai kehidupan, kebebasan dan keamanan, kebebasan dari penahanan, peangkapan dan pengasingan sewenang-wenang, hak memperoleh memperoleh peradilan umum yang bebas, independen dan tidak memihak, kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, menganut agama, menentukan sesuatu yang baik atau buruk menurut nuraninya, serta kebebasan untuk berkelompok secara damai.

·         Teori Keutamaan (Virtue Theory)
Teori keutamaan berangkat dari manusianya (Bertens, 2000). Teori keutamaan tidak menanyakan tindakan mana yang etis dan tindakan mana yang tidak etis. Teori ini tidak lagi mempertanyakan suatu tindakan, tetapi berangkat dari pertanyaan mengenai sifat-sifat atau karakter yang harus dimiliki oleh seseorang agar bisa disebut sebagai manusia utama, dan sifat-sifat atau karakter yang mencerminkan manusia hina. Karakter/sifat utama dapat didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang telah melekat/dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk selalu bertingkah laku yang secara moral dinilai baik. Mereka yang selalu melakukan tingkah laku buruk secar amoral disebut manusia hina. Bertens (200) memberikan contoh sifat keutamaan, antara lain: kebijaksanaan, keadilan, dan kerendahan hati. Sedangkan untuk pelaku bisnis, sifat utama yang perlu dimiliki antara lain: kejujuran, kewajaran (fairness), kepercayaan dan keuletan.

·         Teori Etika Teonom
Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat kristen, yang mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaiman dituangkan dalam kitab suci.

Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.

4.      Egoism
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme. Pertama, egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut teori ini, orang bolah saja yakin ada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur dan/ atau tindakan yang suka berkorban tersebut hanyalah sebuah ilusi.
Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Menurut teori ini, tidak ada tindakan yang sesungguhnya bersifat altruisme, yaitu suatu tindakan yang peduli pada orang lain atau mengutamakan kepentingan orang lain dengan mengorbankan kepentingan dirinya. Kedua, egoisme etis, adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest). Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain. Berikut adalah pokok-pokok pandangan egoisme etis:
  • Egoisme etis tidak mengatakan bahwa orang harus membela kepentingannya sendiri maupun kepentingan orang lain.
  • Egoisme etis hanya berkeyakinan bahwa satu-satunya tuga adalah kepentingan diri.
  • Meski egois etis berkeyakinan bahwa satu-satunya tugas adalah membela kepentingan diri, tetapi egoisme etis juga tidak mengatakan bahwa anda harus menghindari tindakan menolong orang lain.
  • Menurut paham egoisme etis, tindakan menolong orang lain dianggap sebagai tindakan untuk menolong diri sendiri karena mungkin saja kepentingan orang lain tersebut bertautan dengan kepentingan diri sehingga dalam menolong orang lain sebenarnya juga dalam rangka memenuhi kepentingan diri.
  • Inti dari paham egoisme etis adalah apabila ada tindakan yang menguntungkan orang lain, maka keuntungan bagi orang lain ini bukanlah alasan yang membuat tindakan itu benar. Yang membuat tindakan itu benar adalah kenyataan bahwa tindakan itu menguntungkan diri sendiri.

    Alasan yang mendukung teori egoisme:
  • Argumen bahwa altruisme adalah tindakan menghancurkan diri sendiri. Tindakan peduli terhadap orang lain merupakan gangguan ofensif bagi kepentingan sendiri. Cinta kasih kepada orang lain juga akan merendahkan martabat dan kehormatan orang tersebut.
  • Pandangan terhadap kepentingan diri adalah pandangan yang paling sesuai dengan moralitas akal sehat. Pada akhirnya semua tindakan dapat dijelaskan dari prinsip fundamental kepentingan diri.


    Alasan yang menentang teori egoisme etis:
  • Egoisme etis tidak mampu memecahkan konflik-konflik kepentingan. Kita memerlukan aturan moral karena dalam kenyataannya sering kali dijumpai kepentingan-kepentingan yang bertabrakan.
  • Egoisme etis bersifat sewenang-wenang. Egoisme etis dapat dijadikan sebagai pembenaran atas timbulnya rasisme.

Sumber :

Jumat, 17 Mei 2013

Bad Saturday :(


At the time of my writing this, I'll tell you about the events on Saturday which makes saturated. The morning I left for college, after arrived at campus about nine o'clock my friend was coming one by one to a classroom, then there is on of my friends who asked me to help compose paragraphs of his writing scientific papers. Then the first lecturers came and occupy his seat immediately. I was cool in front of laptop forgot that ongoing courses and eventually lecturer was reprimanded me with a rather angry face expression. Since that incident, I immediately felt bored.

After finished the course on the day, I came home with a motorcycle, well that’s jammed and crowded road conditions at the time. Then I went on the road despite occlusion. Then when it is cool to run with my bike, the bycycle suddenly died in the middle of the road, I immediately panicked and I try to push the button to try to blame the motor is dead but my efforts failed and the vehicles behind me were honking their respective vehicle because their traffic rather make my bike stalled due to strike in the middle of the road. Then I slowly push my bike to the shoulder of the road with Mait heart condition that panic. Indeed a day that makes me very saturated.

Kamis, 16 Mei 2013

Exercise 1: Complete the sentence with the verbs in parentheses


1. If I have enough apples, I (bake) will bake an apple pie this afternoon.
2. If I had enough apples, I (bake) would bake an apple pie this afternoon.
3. I will fix your bicycle if I (have) have a screwdriver of the proper size.
4. I would fix your bicycle if I (have) had a screwdriver of the proper size.
5. I (make) will make tomato salad for the picnic tomorrow if the tomatoes in my gareden are ripe.
6. I (make) would make a tomato salad for the picnic tomorrow if the tomatoes in my gareden were ripe.
7. Jack would shave today if he (have) had a sharp razor.
8. Jack will shave today if he (have) have a sharp razor.
9. Sally always answers the phone if she (be) is in her office.
10. Sally would answer the phone if she (be) were in her office right now.
11. I (not be) wouldn’t student in this class if English (be) were my native language.

Kamis, 09 Mei 2013

Swallow Your Food, Stall !!!!!


Swallow Your Food, Stall !!!!!

Hi, I’m Shawn. I’m a shark and I like to much.
Hi, I’m Octo. I’m an octopus. I can hold some spoon and forks at once.
Hi, I’m Merry. I’m a mermaid. I know what I eat.
Hi, I’m Fifi. I’m a fish. I have read abook about food. Have you?
Err…I’m stall. I’m a starfish. That is all I want to say right now.

            Today is Carnival Day. Octo wants to go to the Carnival with his friends.

He quickly finishes his breakfast and goes to Shawn’s house. “I’m ready!” says Shawn. “I even bring snacks!”
Merry is also ready. She doesn’t forget her  hairbrush. “for tidying up my hair in case it gets entangled,” she says.
Fifi is ready. “I bring my book in case we have to wait in line!” she says.
They all go to Stal’s cave. But Stall is not ready. He isi still eating.
Octo and friends wait for Stal. They wait for a long time.
“Last weekend, Stal also took a long time to eat,” Merry thinks.
“Now I know why Stal is often late for school.
Shawn falls asleep. He is too bored waiting for Stal.
Fifi takes out her book and starts reading to kill time.
Finally Octo, Shawn, Fifi and Merry decide to leave without Stal.
They don’t want to miss the puppest show.

Stal continues eating……
One hour later,,, Stal finishes eating.
He quickly goes to the Carnival. But when Stal arrives, the puppest show is over.
Stak cries. Puppest show is Stal’s favorite.
Octo and the others comfort Stal. “We’ll remind you not to keep your food too long in your mouth next time,” Fifi says.

Kamis, 18 April 2013

Exercise 1: Subject, Verb, Complement, and Modifier



1.     George     is cooking         dinner                tonight
Subject   Verb Phrase   Complement     Modifier of Time

2.      Henry and Marcia   have visited       the president
         Subject           Verb Phrase       Complement    

3.      We           can eat            lunch            in this restaurant            today
Subject      Verb         Complement     Modifier of Place    Modifier of Time

4.      Pat           should have bought     gasoline                yesterday
Subject          Verb Phrase          Complement       Modifier of Time

5.      Tress          grow
Subject      Verb

6.      It             was raining     at seven o’clock this morning
Subject   Verb Phrase            Modifier of Time

7.      She            opened      a checking account         at the bank                last week
Subject        Verb            Complement         Modifier of Place     Modifier of Time

8.      Harry          is washing         dishes                right now
Subject     Verb Phrase    Complement    Modifier of Time

9.      She            opened        her book
Subject        Verb       Complement

10.  Paul, William and Mary   were watching       television       a few minutes ago
              Subject                 Verb Phrase         Complement     Modifier of Time

Minggu, 07 April 2013

Business


A business is an organization involved in the trade of goods, services, or both to consumers. Business plan and Business model determine the outcome of an active business operation. Businesses are predominant in capitalist economies, where most of them are privately owned and administered to earn profit to increase the wealth of their owners. Businesses may also be not-for-profit or state-owned. A business owned by multiple individuals may be referred to as a company, although that term also has a more precise meaning.
I want to run a business “sells pulse”
The way I do the marketing is by informing or promoting via sms, bbm and social network to my friends that I was selling pulses. than through sms, credit business that I run this can be known through information from friends who are already on my buy pulses or other words of mouth to mouth so the more people who know that I sell pulses J
The reason why I am selling pulse is because the pulse can be said to be a critical need, no doubt in an age of growing almost all the people use mobile phones and the automated phone support requires the pulse and so I did not miss this business opportunity so I decided to sell pulses for all providers.
I would not waste the opportunity that is in front of my eyes J

Rabu, 09 Januari 2013

Klasifikasi ikhwan (laki-laki) berdasarkan pemahaman terhadap Islam


·      Ikhwan (Laki-laki) Spons
Sebagaimana sebuah spons, ikhwan spons menyerap terlalu banyak materi. Orang bisa sangat kagum dengan wawasan keislamannya. Ia dapat menjelaskan dalil dengan baik, bisa berdebat dengan fasih. Ia bisa mempertahankan pendapatnya dengan argumentasi kuat, menyetir ayat Al-Quran dan hadits. Ngustad banget deh pokoknya.
“Ikhwan spons menyerap terlalu banyak ilmu tanpa saringan. Overload sehingga ia menjadi jenuh sendiri”
Sayangnya, ikhwan spons menyerap ilmu tanpa saringan. Overload, apa saja ia lahap tanpa pendirian pada satu dalil yang cukup kuat. Ia menjadi sendiri seperti larutan gula jenuh, air tak dapat melarutkan butir-butir gula lagi karena jumlah gula dalam air sudah melewati ambang batas untuk bisa larut. Manisnya jadi ngga enak.
Ngga mudah menghadapi ikhwan spons. Ia bisa mempermalukan atau merendahkan orang-orang yang beda pendapat dengan dirinya. Tapi layaknya sebuah spons, ia sebenarnya lembut. Hanya karena memiliki banyak pori-pori, ia mudah menyerap materi, energi di sekitarnya. Nggak jarang ikhwan spons adalah sosok cerdas dengan prestasi akademik di atas rata-rata.

·      Ikhwan Besi
Dia adalah seorang ikhwan yang begitu bersemangat dalam menerapkan ajaran Islam, padahal dulu dia itu adalah sosok yang junkie, funky dan jorky gitu deh.
Ikhwan jenis ini sedang mengalami euforia beragama. Ia sedang semangat berislam; gila, ini jalan kehidupan yang gue cari, jack! Sikapnya dalam beribadah dan beramal serba berlebihan. Misalnya saja dalam menerapkan perintah untuk merundukkan pandangan (ghadul bashar). Dia gampang memalingkan muka dengan lawan jenis, bahkan membuang muka pada mereka yang berpenampilan menggoda sehingga menyakiti lawan bicara. Emang enak, bicara sama orang yang nunduk terus?
Pendekatan secara personal adalah pendekatan yang tepat untuk ikhwan besi yang sedang futur. Ia butuh teman berbagi, tempat melepas lara dan gundah. Sifat jaimnya memang masih nyebelin banget! Tapi percayalah, kalau kita terus mendekatinya, berusaha merangkulnya, melucuti kerak-kerak yang melumuti hatinya, insya allah ia dapat kembali bercahaya. Memang butuh proses panjang untuk mengembalikannya seperti sedia kala. Tapi, Allah melihat proses, bukan hasilnya, kan?

·      Ikhwan Bambu
Ada ikhwan yang secara fisik biasa tapi memesona. Wajahnya nggak sekelas idola para remaja. Anehnya dia enak dilihat, sejuk, asyik banget mendengar nasihat darinya. Ia bisa saja orang yang telah banyak memiliki ilmu agama, atau bisa jadi ia adalah sosok yang kalau membaca Al-Quran masih terbata-bata. Suatu hal yang membuat mereka sama, baik yang masih dangkal atau dalam ilmu agamanya, yaitu mereka mudah menerima nasihat, saran dan kritikan, sekalipun datang dari orang yang lebih muda.
Ikhwan seperti ini umumnya tahan banting, siap menghadapi segala perubahan cuaca. Ia layaknya bilah bambu. Kokoh, tegak terpancang meskipun angin menggoyang. Seperti bambu yang memiliki sistem perakaran serabut dengan akar rimpang, ikhwan ini berusaha tegar. Ia berusaha tegak meskipun petir menggelegar. Semakin tinggi posisinya, ia tetap merunduk.
Bambu hidup berumpun. Bentuknya silindris, berbuku-buku, berongga namun kekar, berdinding keras. Bambu tumbuh bertahap, mulai dari rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 4-5 tahun. Bambu siap tebang, dipakai untuk berbagai keperluan, mulai dari peralatan rumah, perabotan dapur, kerajinan tangan, bahan bangunan serta peralatan lain baik yang sederhana sampai dengan industri kertas modern. Seorang ikhwan idealnya juga bisa seperti itu. Ia berkumpul dengan orang-orang shaleh untuk menimba ilmu, terus memperbaiki diri, bertahap tumbuh, dewasa, menyebar ke setiap penjuru bumi. Seperti bambu yang mampu bertunas di setiap buku-bukunya, si ikhwan juga harus bisa memberi manfaat, cahaya, dari setiap perilaku kesehariannya.

Ikhwan bambu diharapkan menumbuhkan bambu-bambu muda. Bukan tiruan, tapi sosok yang mempunyai kesalehan dan kobar semangat yang nggak kalah sama. Ia lentur, mudah membaur, tanpa harus lebur. Dunia membutuhkan sosok-sosok bambu yang bekerja seimbang untuk dunia dan syurga.

Sumber: novel “membongkar rahasia ikhwan nyebelin” by.Koko nata & Denny P